PADANG, SUMBAR | Di sebuah sudut ESA Cafe kawasan GOR Haji Agus Salim, suasana pagi Rabu terasa tenang. Aroma kopi hitam mengepul pelan dari cangkir di atas meja, menemani obrolan ringan yang mengalir tanpa beban. Di hadapan meja sederhana itu, duduk sosok yang bagi kalangan jurnalis lokal bukan nama asing: Alex Adrial, Pemimpin Umum Koran Salingka News. Rabu, 15 April 2026, bukan sekadar hari biasa baginya.
Pagi itu, Alex tidak sedang membahas headline edisi terbaru. Tidak pula berbicara tentang liputan eksklusif. Ia justru berbicara tentang sesuatu yang lebih sunyi: mesin cetak yang belum kembali berdetak. Tentang koran yang untuk sementara belum terbit, bukan karena kehilangan semangat, melainkan karena ketiadaan dana cetak.
Dengan senyum yang tak pernah benar-benar hilang dari wajahnya, Alex tetap tampak santai. Sesekali ia menyeruput kopi, sesekali matanya menyapu sekitar kafe yang mulai ramai. Obrolan tentang dunia pers mengalir ringan, seolah tak ada beban berat yang sedang dipikul.
“Media itu bukan cuma soal berita, tapi soal napas,” ucapnya pelan. Kalimat yang sederhana, namun sarat makna. Ia bercerita bagaimana menjaga media cetak di era sekarang bukan lagi sekadar soal idealisme jurnalistik, tetapi juga perjuangan finansial yang tak ringan.
Di atas meja, ponsel terus menyala. Notifikasi grup wartawan, pesan masuk dari relasi, hingga percakapan kecil dengan rekan media lain yang singgah menyapa. Bagi Alex, jaringan pertemanan sesama awak media adalah kekuatan yang tak tertulis, penyangga moral di tengah situasi sulit.
Ia tidak mengeluh. Tidak pula menyalahkan keadaan. Baginya, fase ini adalah bagian dari perjalanan panjang sebuah media lokal yang lahir dari semangat kebersamaan dan informasi untuk masyarakat sekitar.
“Kalau niatnya masih untuk memberi informasi yang baik, jalannya pasti ada,” katanya lagi, sambil tersenyum tipis.
ESA Cafe pagi itu menjadi saksi obrolan humanis para jurnalis. Tentang berita-berita yang pernah viral, tentang dinamika liputan di lapangan, hingga kenangan masa ketika koran cetak masih menjadi rujukan utama masyarakat. Tawa kecil sesekali pecah, mencairkan suasana.
Bagi Alex, berhentinya sementara mesin cetak bukan akhir dari cerita. Ia tetap menulis, tetap mengumpulkan bahan berita, tetap menjaga semangat tim kecilnya agar tidak padam. Karena baginya, media adalah tentang konsistensi, bukan sekadar terbit atau tidak terbit.
Ia mengakui, tantangan media cetak saat ini bukan hanya pada minat baca, tetapi juga pada biaya produksi yang terus meningkat. Kertas, tinta, distribusi—semuanya menuntut angka yang tidak sedikit.
Namun yang menarik, di tengah semua itu, Alex justru lebih banyak berbicara tentang harapan ketimbang kesulitan. Tentang bagaimana suatu saat Salingka News akan kembali hadir di tangan pembaca, seperti dulu.
Obrolan di ESA Cafe terasa seperti terapi kecil bagi para awak media yang hadir. Tidak ada formalitas, tidak ada jarak. Hanya percakapan jujur tentang realitas dunia pers yang jarang terlihat dari luar.
Senyum Alex tetap menjadi penutup setiap kalimatnya. Senyum yang menyiratkan bahwa semangatnya belum pudar, bahwa keyakinannya pada dunia jurnalistik masih utuh.
Rabu itu menjadi momen sederhana namun penuh makna. Sebuah pagi yang menunjukkan bahwa di balik setiap koran yang terbit, ada perjuangan panjang yang sering tak terlihat.
Di ESA Cafe, di antara kopi hitam dan obrolan santai, terlihat jelas satu hal: idealisme seorang jurnalis tidak pernah benar-benar berhenti, meski mesin cetak sedang terdiam.
TIM

0 Komentar